Kebiasaan Menuntut, Tanpa Ikut Ambil Bagian
Transportasi publik untuk siapa?
Transjakarta sebagai salah satu transportasi publik
Pentingya Transportasi Publik
Ada banyak alasan mengapa transportasi publik menjadi salah satu elemen penting dalam menopang kehidupan masyarakat di kota-kota besar, terlebih di Jakarta sebagai ibukota negara. Transportasi publik diharapkan dapat menjadi solusi berbagai masalah seperti kemacetan, polusi udara, dan lain-lain. Sudah bertahun-tahun kegiatan ekonomi harus terhambat karena kemacetan dan tanpa kita sadari hal ini membangun budaya-budaya buruk dalam masyarakat kita seperti pelanggaran lalu lintas yang sudah dianggap biasa. Bahkan seperti disiarkan CNN, Selasa (8/1/2019) Jakarta duduk di urutan keempat kota termacet di dunia. Selain itu, tanpa kita sadari mungkin ketika kita melakukan tes kesehatan paru-paru hasilnya menunjukan paru-paru yang kotor akibat polutan yang sehari-hari kita hirup dari udara Jakarta. Dilansir Kompas.com, Kamis (7/3/2019) Jakarta menempati puncak daftar kota paling berpolusi udara di Asia Tenggara pada tahun 2018 menurut studi oleh Greenpeace dan IQ AirVisual yang dipublikasikan pada Selasa (5/3/2019). Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan.
Kebiasaan Menuntut
Kebiasaan Menuntut
Kita semua tentunya merasakan betapa jenuhnya terjebak kemacetan, mulai dari kencan yang batal karena kita terlambat ataupun rapat organisasi yang harus tertunda karena alasan macet. Padahal mungkin saja yang bersangkutan memang terlambat bangun dan hanya mencari alasan agar tidak kena marah. Mungkin juga, sebagian dari kita sudah merasakan betapa buruknya udara Jakarta ketika naik ojek daring, terlebih lagi knalpot berisik yang mengiringi motor modif yang tak sesuai aturan. Ataupun, harus menginjak rem karena emak-emak yang memberi tanda akan belok kiri, tetapi malah berbelok ke kanan. Saking jenuhnya, hal itu membuat kita seringkali berteriak, menuntut pemerintah memberikan solusi atas kemacetan. Semua tuduhan diarahkan kepada mereka para penyelenggara pemerintahan. Akan tetapi, ketika mereka menawarkan solusi yaitu transortasi publik, apa yang kita perbuat? Apakah kita ikut mendukung kebijakan itu dengan aksi nyata yang konkret?
Buruknya lalu lintas ibukota
Transportasi Publik Kita Kini
Untuk menjawab tuntutan-tuntutan tersebut, saat ini di Jakarta telah tersedia berbagai macam transportasi publik seperti transjakarta, KRL (Kereta Rel Listrik) , dan yang belum lama ini diresmikan yaitu MRT (Moda Raya Terpadu). Transportasi-transportasi tersebut dapat disebut sebagai 3 transportasi publik yang paling nyaman di ibukota. Bahkan, MRT dapat diandalkan dengan kemampuannya untuk selalu tepat waktu. Transjakarta sendiri sudah melakukan berbagai pembenahan hingga saat ini memiliki 13 rute BRT (Bus Rapid Transit) dan kurang lebih 100 rute integrasi/bus pengumpan. Untuk menopang aktivitas itu, PT Transjakarta menargetkan pada tahun 2019 memiliki 3.558 unit armada, seperti yang diberitakan Bisnis.com, (18/2/2019). Sehingga kita tidak perlu takut harus menunggu bus dalam waktu yang lama.
Terlebih lagi, pada masa pemerintahan ini diterbitkan program Jak Lingko yang menghubungkan berbagai transportasi publik mulai dari transjakarta BRT, bus pengumpan, bahkan kearifan lokal kita, yaitu angkot. “Cukup 5000 rupiah bisa kemana saja,” menjadi salah satu slogan yang diusung dalam program ini. Selain itu, saat ini ada program 0 rupiah untuk menggunakan angkot terintegrasi Jak Lingko. Saya sendiri merupakan pengguna transjakarta sebagai transportasi sehari-hari, saya merasakan betapa nyamannya menggunakan transjakarta yang sudah dilengkapi pendingin dan fasilitas-fasilitas lainnya. Saya tidak perlu menunggu bus sampai setengah jam seperti ketika saya SD dulu. Sudah hampir tidak pernah terlihat juga anak-anak yang harus terjepit karena berdesak-desakan di dalam bus. Ketika sampai di halte terdekat, saya juga tidak perlu repot memikirkan bagaimana sampai ke rumah karena sudah ada angkot yang terintegrasi Jak Lingko sehingga saya tidak perlu membayar lagi. Namun, memang tidak dapat dipungkiri masih ada banyak kekurangan dalam pelayanannya, akan tetapi kita perlu mengapresiasi dan menghargai upaya pemerintah.

Bus transjakarta yang nyaman
Aksi Nyata
Sekarang, ketika transportasi publik itu sudah tersedia, mengapa Jakarta masih macet? Mengapa udara yang kita hirup seringkali merasa sesak? Jawabannya ada pada diri kita sendiri, para manusia yang berteriak menuntut tanpa ikut ambil bagian menyelesaikan masalah tersebut. Kita masih seringkali lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi ketika ingin berangkat ke sekolah, kantor, ataupun sekadar untuk berkunjung ke rumah teman yang jaraknya tak lebih dari 500 meter. Seperti dipublikasikan Kompas.com, (15/1/2019) Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) mencatat, saat ini ada 663.000 penumpang yang menggunakan bus transjakarta per hari. Padahal jumlah penduduk Jakarta lebih dari 10 juta jiwa.
Memang tidaklah mudah untuk merubah budaya menggunakan kendaraan pribadi menjadi transportasi publik. Dalam budaya masyarakat kita sendiri, memiliki kendaraan pribadi merupakan salah satu tolak ukur kemapanan seseorang. Bagi kaum pria, ketika ingin mendekati seorang wanita tak jarang pertanyaan yang muncul adalah, “Sudah punya mobil?” Namun, hal ini dapat teratasi bila kita bergerak secara massal berpindah menggunakan transportasi publik. Ketika dilakukan secara massal, hal itu juga akan merubah budaya masyarakat kita. Bahkan menggunakan transportasi publik dapat menjadi suatu tanda kedewasaan, karena berarti kita peduli akan kepentingan kita bersama agar terhindar dari kemacetan dan tanda kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.
Perlu juga dilakukan pendidikan dengan kualitas yang baik, agar mampu mengubah cara berpikir masyarakat yang ingin serba instan. Masyarakat kita juga masih perlu belajar bagaimana harus antre dan menghormati kebutuhan dan kehadiran orang lain.
Perlu juga dilakukan pendidikan dengan kualitas yang baik, agar mampu mengubah cara berpikir masyarakat yang ingin serba instan. Masyarakat kita juga masih perlu belajar bagaimana harus antre dan menghormati kebutuhan dan kehadiran orang lain.
Segala pembangunan yang dilakukan pemerintah akan sia-sia bila tidak didukung oleh masyarakat. Karena sejatinya, pemerintahan akan berhasil ketika pemerintah dan rakyat mampu bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama. Sadarkah kita, ketika 1 orang menggunakan transportasi publik berarti mengurangi 1 mobil di jalan raya? Bayangkan bila hal itu dilakukan oleh jutaan orang, maka akan berkurang juga 1 juta mobil di jalan raya. Sudah selayaknya kita bersikap dewasa, mungkin kita dapat menggunakan mobil hanya ketika melakukan perjalanan jarak jauh. Selama masih dapat dijangkau kita memilih berjalan kaki ataupun menggunakan transportasi publik.
Masih ada juga hal-hal yang perlu dilakukan pemerintah untuk mendukung budaya menggunakan transportasi publik yaitu menyediakan fasilitas khusus disabilitas, penambahan armada, pemerataan pembangunan fasilitas publik seperti trotoar juga halte, dan lain-lain. Selain itu, sebagai penekan masyarakat akan lebih baik bila pajak kendaraan bermotor ditingkatkan, agar masyarakat berpikir 2 atau 3 kali ketika ingin membeli kendaraan bermotor pribadi.
Kita semua memiliki kemampuan untuk ikut ambil bagian dalam aksi ini. Sekarang, tinggal pilihan kita untuk mau bersantai atau keluar dari zona nyaman kita, ikut ambil bagian dalam pembentukan budaya baru untuk kehidupan bersama yang lebih baik. Mari kita lakukan aksi nyata membangun negeri. Sehingga nanti kita tidak perlu menunda rapat karena macet. Kita tidak perlu lagi menggunakan masker untuk menghindari polusi ketika berjalan di trotoar, supaya kita dapat memandang sang bidadari dengan lebih nyata yang selama ini wajahnya harus tertutup masker. Tidak perlu lagi kita mendengar knalpot berisik dari jagoan jalanan ataupun rem mendadak ketika ada emak-emak yang tiba-tiba berbelok tajam ke kiri. Supaya nantinya kita semua dapat hidup nyaman di kota Jakarta tercinta ini membentuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.


Comments
Post a Comment